Santa

3:22 PM



Dingin.
Tangannya kecil, halus, dan dingin, tapi tak lebih dingin dibanding tatapannya yang seakan-akan ingin memprotes keterasingan yang barangkali tidak perlu ada jika aku mau menjenguk kelahirannya, sepuluh tahun silam. Ia melepaskan tanganku, setelah menciumnya sedetik yang lalu. Tangan kirinya masih memegang dua buku besar dan tempat pensil hijau muda. Ia masih terdiam. Aku mengambil remote televisi di samping puding mangga dan es coklat buatan Supri untuk anak itu, kemudian menanyakan acara apa yang biasa ia tonton pada jam 4 sore.
            “Saya jarang nonton TV, terserah Nenek Sufi saja,”
Aku melihatnya dengan heran. Tak pernah satu kalipun aku mendapati anak kecil yang tidak suka menonton televisi. Aku beranjak dari sofa, mengajaknya ke teras samping yang menghadap kebun anggrek. Aku menghindari pemandangan kolam kecil teras belakang rumah, melulu karena mimpi burukku semalam. Dalam mimpi, aku mati tenggelam di sana. Sepertinya perkara tidurku yang selama dua bulan ini kuderita tidak akan sembuh dengan mudah. Masalahnya sama, jika tidak insomnia, aku pasti tidur dan mendapati mimpi buruk. Beberapa kali aku bermimpi terkunci di dalam kamar, tidak bisa keluar, sesak napas sampai mati di sana. Setelah kali ketiga mimpi itu berulang, aku melempar kunci kamar ke atap rumah keesokan harinya.
“Lukisan Kak Ben,”
Suara anak itu menggeser mimpi-mimpi yang kucemaskan bermalam-malam ini. Aku mengiyakan pernyataan anak itu. Lukisan Beni yang menang di kompetisi nasional tahun ini sudah selesai dipasang Parto di dekat pintu keluar. Beni, cucu laki-laki paling besar yang minimal sekali sebulan menjengukku, tidak seperti Joshua, adik kecilnya, yang hanya datang jika Mama dan Papanya ikut berkunjung saja. Aku kemudian menanyakan Beni dan Joshua kepadanya.
“Terkadang, Ayah mengajak Jo main ke rumah, kami seumuran. Kak Ben sering menjemputnya kalau sudah larut. Ayah juga kadang mengajak aku ke rumah mereka. Tante Nina selalu mengajak kami jalan-jalan bersama juga, kalau dia tidak sedang bertugas ke luar kota,”
            Anak itu berkata dengan sangat datar, seolah-olah apa yang tengah dikatakannya tidak ada keganjilan sedikit pun. Aku menatapnya sekali lagi, ia berjalan keluar mendahuluiku dan duduk di kursi rotan menghadap kebun anggrek yang sedang tidak berbunga. Sebelas tahun lalu, di kursi yang sama, Amala menyendiri di sana, sementara aku dan Lanang, anak laki-lakiku satu-satunya, bertengkar hebat di dalam rumah. Dengan alasan apa pun, aku tak akan merestui pernikahan kedua anak laki-lakiku sendiri. Dan selamanya, aku tak akan pernah menerima pernikahan kedua siapapun.
            Barangkali benar, aku begitu terikat dengan masa lalu dan tidak akan pernah berdamai atas alasan apa saja. Aku masih tak habis pikir, anak laki-laki yang selama ini dibesarkan oleh seorang ibu pembenci perempuan kedua sepertiku, bisa memutuskan untuk menikah lagi. Memang tidak seperti bapaknya, yang dulu kabur bersama simpanannya dan meninggalkan Lanang yang belum genap sebulan saat itu. Tapi tetap saja, aku tak bisa menerima perempuan kedua. Boleh saja dia membawa Nina, Beni, atau Joshua ke rumah ini, tapi tidak dengan Amala.
            “Dua hari lagi aku masuk sekolah. Ibu guru memintaku menulis tentang liburan di rumah nenek dan kakek sebagai tugas liburan,”
            Sambil menaruh buku dan tempat pensilnya di meja sebelahnya, anak itu masih berkata dengan datar. Baru juga semalam aku menolak permintaan Lanang untuk membawa anak ini ke rumah, hingga tadi ia tiba-tiba sudah ada di rumah bersama anak Amala, untuk pertama kalinya. Dan saat ini, anak itu di depan hidungku, mengutarakan alasan kedatangannya, yang ternyata sesepele itu. Aku menanyakan kenapa ia tak menulis liburannya bersama Joshua.
            “Jo sangat mengesalkan, segedhe dia masa’ belum berani men-charge tabletnya sendiri. Lagian, menulis tentang liburan bersama nenek sepertinya lebih baik daripada liburan bersama saudara tiri,”
            Kami berdua terdiam. Anak itu kemudian menatapku dan tersenyum untuk pertama kalinya.
            “O iya, Ibu pernah bercerita, Nenek Sufi sangat pintar menggambar,”
Aku tertegun. Aku tak tahu ada orang lain yang mengetahui kegemaran kecilku dulu. Kegemaran yang kemudian aku tinggalkan gara-gara kakak perempuanku lebih pintar menggambar apa pun.
“Kata Ibu, Nenek Sufi selalu mengerjakan tugas Nenek Jaya di setiap tugas menggambar. Karenanya, dua nenekku ini dulu sangat bersahabat baik. Boleh aku menuliskan kisah ini dalam tulisanku, Nek?”
Aku tercengang. Aku tak tahu Amala anak Jayanti, teman dekatku selama besar dan bersekolah di Jogja dulu. Kabar terakhir yang kuterima adalah, Jayanti meninggal karena sakit belasan tahun silam. Aku mencoba tenang, aku tak ingin terlalu banyak bicara tentang masa lalu dengan anak ini. Aku kemudian bertanya apakah dia juga pintar menggambar.
“Aku lebih suka membaca. Setiap minggu Ibu selalu memberikan buku bacaan baru,”
Aku melihat matanya, semakin berbinar, seperti anak kecil yang kesenangan dibelikan boneka-boneka princess oleh orangtuanya. Aku iseng bertanya, siapa putri kesukaannya, dari buku dongeng yang pernah ia baca.
“Aku tidak menyukai princess. Mereka lemah. Ada yang suka menunggu pangeran berkuda, ada yang menunggu diubah menjadi cantik, ada yang menunggu diselamatkan. Aku selalu berpikir, mereka sebenarnya bisa menolong dirinya sendiri, kenapa harus menunggu..”
Aku merasa anak kecil di depanku mulai melantur dengan imajinasinya sendiri. Sampai kemudian Supri memecah kecanggungan kami dengan pamitan pulang, setelah menyuguhkan dua gelas teh chamomile. Kata Lanang, minuman ini baik untuk memperbaiki kualitas tidur dan relaksasi. Terakhir ia berpesan agar aku tidak memikirkan hal-hal aneh, semacam kematian, biar aku bisa tidur nyenyak. Tapi bukankah itu hal wajar yang bisa dipikirkan perempuan seusiaku.
Aku tak tahu, nanti malam aku bakalan mendapati mimpi buruk apalagi setelah bertemu dengan anak ini. Mimpi aku bakalan dibunuh olehnya, atau hal-hal sepele, semisal, rambut ekor kudanya yang mendadak memanjang dan mencekikku. Dia tengah menulis, kuamati kembali rambut hitamnya. Rambut kucir ekor kudanya mengingatkanku pada Pak Jenderal, ayahku. Satu dari banyak hal yang masih bisa kuingat adalah, di tengah kesibukkannya, ayah masih sempat mengajakku mengobrol sambil memainkan rambutku dan sesekali mengucirnya. Sampai kemudian ia tak pernah melakukannya lagi dan lebih memilih berdiskusi dengan kakak perempuanku perihal politik yang tengah memanas saat itu. Tanpa tahu kronologinya, mereka berdua bertengkar hebat, kakak berontak, dan mulai hari itu ia tak pernah lagi kembali ke rumah. Anehnya, aku merasa lebih baik seperti itu.
 Rambut ekor kuda anak ini seakan-akan mengingatkan, bahwa aku masih seperti dulu, seseorang yang selalu takut kalah.
Aku kemudian bertanya cita-citanya, apakah ia ingin juga menjadi pelukis seperti Beni. Aku kaget ketika ia menjawab bahwa ia ingin menjadi pemahat patung, setelah diajak membolos oleh Ibunya sendiri.
 “Aku mengocehkan kisah Ramayana dan Mahabarata yang baru selesai saat itu. Dan tiba-tiba Ibu memutar mobil, tidak jadi menuju sekolahan. Ibu mengajak aku ke tempat kerjanya. Kami seharian berjalan-jalan berdua di museum gajah. Pulang dari sana aku ingin jadi pemahat patung,”
“Biar besoook, patungku bisa dibicarakan orang setiap hari, seperti patung-patung di sana,”
Aku membiarkannya terus mengoceh. Anak itu kemudian membicarakan tentang kesukaannya yang lain, yang tak kalah aneh dari cita-citanya sebagai pemahat patung. Konon, ia menyukai rutinitas hari Minggunya ke pasar tradisional.
  “Suka sekali. Sehabis belanja Ibu selalu mampir di tukang gudeg pojokan pasar. Gudeg itu mengingatkan Ibu dengan Nenek Jaya. Kata Ibu, dari semua masakan, gudeg adalah masakan yang Nenek Jaya masak dengan sepenuh hati, aku tak tahu apa maksudnya, yang kutahu gudeg di pojokan pasar itu manis dan merah,”
            Anak itu kembali menyebut Jayanti. Aku ingat sekali dulu, ia merajuk dan memintaku mengajarinya memasak. Belakangan kuketahui ternyata itu ia lakukan untuk pacarnya. Dulu ia pernah bilang, setiap memasak gudeg ia akan mengingatku. Manis dan merahnya mendeskripsikan Sufi yang baik, katanya jahil. Kemesraan kami tidak panjang usia. Aku menjadi anak perempuan yang lebih penurut, dengan ikut Pak Jenderal pindah ke Ibukota dan menikah dengan laki-laki pilihannya, dan kecewa setelahnya. Waktu itu aku masih bisa menenangkan diriku, tak apa aku masih menang atas ayahku sendiri. Aku kembali meneruskan hidup dengan keras kepala. Ah, betapa melelahkannya, aku mendadak merindukan Jayanti saat ini.
            Aku mengambil satu buku tulis kecilnya dan membukanya. Ada nama panjangnya di halaman pertama, halaman kedua kosong, ketiga dan seterusnya masih kosong, hingga kemudian ada penuh catatan di pertengahan buku. Aku bertanya, kenapa ia tak memulainya urut dari halaman depan. Ia malah balik bertanya.
            “Menurut Nenek Sufi kenapa harus urut dari halaman depan?”
Aku tak menjawabnya, beberapa kalimat yang ia tulis menyita perhatianku. Aku tak percaya anak sekecil ini bisa menulis kalimat aneh ini.

Selembar daun jati tua
Jatuh
Di atas makam purba.
O, pengetahuan, mengapa manusia ingin bahagia?*

“Nenek Sufi yang pertama aku kasih lihat buku rahasia ini. Aku ingin berbagi rahasia. Kalimat itu aku salin dari buku diary Ibu. Jangan kasih tahu Ibu ya kalau aku baca buku Ibu dengan sembunyi-sembunyi,”
Aku menanyakan, kenapa ia berbuat demikian. Dengan mata yang semakin berbinar, anak itu menjawab.
“Aku ingin punya rahasia juga seperti orang dewasa, dan ingin membaginya dengan orang yang aku percaya. Kemarin aku membuka buku Ibu dan menyalin beberapa di antaranya. Hari ini aku ingin membaginya dengan Nenek Sufi yang baik,”
            Aku terdiam. Kalimat itu seperti keluar dari sahabat lama yang teramat dekat. Sepertinya, rindu sudah meruntuhkan apapun. Ia seperti tengah mendaki gunung keangkuhan tertinggi perempuan tua, yang selama ini dibangun dari puing-puing kecemasan atas apa saja, dan kemudian meruntuhkannya tanpa air mata. Aku melihat Jayanti di mata anak itu, sedetik kemudian aku melihatnya berubah menjadi Amala. Aku meneguk habis satu cangkir chamomile untuk mengurangi kegugupanku. Anak itu kembali meneruskan tulisan di buku besarnya, menyalin beberapa tulisan dari buku kecil. Aku mencondongkan tubuhku ke depan, beberapa kalimat dapat terbaca dari kacamata tuaku. Beberapa detik setelahnya, chamomile atau apapun di tubuhku bereaksi sebaliknya. Jantungku belum pernah sebergejolak ini.
            Hari ini aku mempunyai rahasia yang aku bagikan dengan satu orang yang kupercaya. Aku mempercayainya, karena kata Ibuku, Nenek Sufiah baik. Yaitu tentang puisi di buku Ibu. Oiya, satu lagi tentang kata-kata aneh di halaman terakhir di buku itu. Kata-kata aneh itu diawali dengan namaku. “Hari ini, Santa didiagnosis leukimia.”
~~~~
Yulaika Ramadhani


*Puisi Dea Anugrah - Teringat Kuburan di Desa (dari buku puisi Misa Arwah)

You Might Also Like

0 komentar

WILDFLOWER

They just grow wherever they want. No one has to plant them. And then their seeds blow in the wind and they find a new place to grow.

Don't be beautiful

They keep saying that beautiful is something a girl needs to be. But honestly? Forget that. Don’t be beautiful. Be angry, be intelligent, be witty, be klutzy, be interesting, be funny, be adventurous, be crazy, be talented – there are an eternity of other things to be other than beautiful. And what is beautiful anyway but a set of letters strung together to make a word? Be your own definition of amazing, always. That is so much more important than anything beautiful, ever.” – Nikita Gill