(NO) Valentine’s Day

9:48 PM


Jika kalian terjebak dalam judul di atas dan berharap aku ikut-ikutan membahas panjang lebar  perkara tanggal 14 kemarin serta ikut-ikutan angkat-angkat papan dengan tulisan No Valentine’s Day, maka berhentilah membaca saat ini juga. Aku bukan orang yang mudah bersepakat dengan media, terlebih media yang mericuhkan hal-hal sepele dan mengotori kecerdasan –macam kancing jas Jokowi dan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dibahas— atau media yang sengaja dibuat untuk membuat pembacanya yang aslinya pemarah menjadi lebih pemarah lagi. Aku juga bukan tipikal orang yang repot-repot memilah milih media, mana yang mendukung dengan pendapatku mana yang tidak, atau yang tidak termasuk keduanya. Karena aku yakin, bukan cuma pejabat-pejabat saja yang punya kepentingan dibalik polahnya, tetapi juga wartawan. Untuk masalah duit, aku kira baik pejabat, wartawan, atau malah sales obat tikus pun akan bersepakat untuk mengiyakan. Tentu saja aku tak menyebut semua wartawan, semua pejabat, atau semua sales obat tikus seperti itu, jadi kamu tidak perlu buang-buang energi untuk tersinggung. Pendeknya, aku sering nyinyir terhadap media.
Pertanyaan selanjutnya adalah, Valentine’s Day macam apa yang bakalan aku bahas. Akan lebih damai mungkin jika aku membicarakan film berjudul sama, Valentine’s Day. Tentu saja lebih damai, jika dibandingkan ikut-ikutan demo sambil membawa papan “NO VALENTINE’S DAY”. Karena aku yakin aku juga bakalan mengajak ribut dengan siapapun yang demo membawa papan “NO HIJAB DAY”, yang untungnya belum ada sampai dengan saat ini. Jangankan itu, tak sengaja terkena hembusan kasar knalpot motor saat lampu merah saja aku sudah sebal bukan main, padahal aku sendiri punya kemungkinan yang sama berlaku demikian. Segampang itu analoginya. Segampang itu orang-orang marah dengan alasan yang aku kira bisa dijadikan pihak lain marah juga karenanya. Gampangnya, jangan melakukan apapun kepada siapapun, hal-hal yang kalian sendiri tidak akan berkenan jika ditujukan kepadamu. 
Kembali ke film Valentine’s Day yang sempat terlupa sampai dua paragraf oleh karena ocehanku yang sebaiknya tidak kalian masukkan ke dalam hati terlalu dalam itu. Dibintangi dengan sederet aktor kenamaan, sebut saja Julia Robert, Anne Hathaway, Ashton Kutcher, Bradley Cooper, Jennifer Garner, Jessica Biel, dkk menjadikan film ini mempunyai nilai jual lebih. Dan sayangnya bukan alasanku mau menonton film tersebut. Sebenarnya sederhana saja, aku cuma butuh pengalihan suasana dari orang-orang yang rasa-rasanya gemar membuat orang lain tersesat, baik itu di televisi atau di sosial media. Bagaimana tidak, hal-hal sensitive sampai dengan hal-hal yang dianggap sebagai bercandaan pun seakan terasa menyesatkan untuk aku yang sesensitif saat ini. sebut saja perkara gambar coklat yang dijejerkan dengan buku nikah dan diberi caption: “Hari gini masih ngasih coklat, buku nikah dong!”. Aku jadi ngeri sendiri, apa jadinya jika buku nikah bisa didapatkan semudah beli coklat lima belas ribu aja di pinggir jalan, dan kejadian-kejadian setelahnya --yang mungkin tidak semengerikan seperti yang kubayangkan--.oh sudahlah, bagaimanapun juga aku sedang layak untuk dimaklumi karena kesensitifanku.
Aku menonton film ini pun berangkat dari rasa ingin tahu -yang kubuat-buat- perihal hari Valentine. Dimana banyak orang merayakan suka citanya atas nama hari kasih sayang di belahan dunia sana, dan di belahan dunia yang kini tengah kupijak; banyak orang merayakannya dengan menebar kebencian. Di sini –di belahan dunia yang tengah kupijak ini- Valentine dikaitkan dengan penjualan kondom yang mengalami peningkatan pesat yang berujung pada perayaan seks secara masal. Siapa yang mengaitkan seperti itu? Para moralis yang ditarik-ulur oleh media menjadi berita yang karenanya para pemarah menjadi lebih pemarah. Dan saya kecewa karenanya. Terlebih karena di banyak sisi, Valentine adalah satu dari perayaan keagamaan. Menolaknya sama artinya dengan tidak menghargai agama lain. Sama dengan teman saya; saya tidak merayakan Valentine. Saya tidak setuju seks bebas. Saya lebih tidak setuju bila Valentine dikaitkan dengan seks bebas. Aku bukan orang yang berpikir dengan birahi, oleh karenanya aku tidak mau sepakat sama sekali.
Film yang daritadi kusebut tapi tak kubahas panjang lebar itu pun tidak mengajak kita berpikir demikian. Dari awal sampai akhir film ini, aku dipertemukan dengan hal-hal yang menyenangkan; coklat, bunga, cincin tunangan, ucapan selamat, dan banyak hal berwarna merah muda. Yang semuanya itu menggambarkan kebahagiaan Valentine. Tapi mungkin bagi beberapa orang, kebahagiaannya hanya bisa dirayakan dengan menolak kebahagiaan orang lain. Satu hal yang masuk akal di mereka tapi tidak dapat kumengertikan secara damai dengan diriku sendiri. Satu pertanyaan yang mungkin akan menjadi teka-teki selamanya. 
Ternyata membicarakan film tidak lebih menarik dibanding membicarakan beberapa ke-nyinyir-anku terhadap hal-hal di atas. Sampai akhirnya aku seperti kebanyakan orang yang lain: membicarakan hal-hal secara berlebihan. Akan lebih sial lagi, jika kalian menggolongkan aku sebagai orang-orang yang gemar menyesatkan orang lain tepat setelah kalimat ini. Happy Valentine’s day! Are you really happy??


yula, Cibinong 16022015

You Might Also Like

10 komentar

  1. Bacaannya easy reading, tapi kalau dikaitkan dng tema teka-teki kok kayaknya kurang dapet, ya? Teka-tekinya di mana? Whehehe... tapi ide gabungin review film sama issue yg lagi anget itu brilliant banget (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang agak maksa (dipaksain lebih tepatnya..huhu...). Sekar ngasih tema teka-teki di grup nulis kita itu... beneran absurd buatku. Hehe.. besok aku nulis prosa dengan tema sama deh. Hehe
      Btw, aku ga ngreview film lho itu, De. Basa basi doang filmnya. Hihihi

      Delete
    2. Njiiir, ane ketipu dong ya? T.T dikira review beneran

      Delete
    3. kalo filmnya sih ada beneran, De. tapi kalo tulisan diatas lebih mirip sumpah serapah dibanding review film ~.~

      Delete
  2. Perayaan Valentine di ruang publik adalah hate speech kepada para jomblo :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. jomblo? saya? hehehe... xP
      aku nge-link kamu di atas, Rio. Sorry ga bilang dulu hehe

      Delete
  3. Tulisanmu lebih ke kritik gitu ya, Mbak?
    Memang nggak berasa teka-tekinya, dan filmnya tak dibahas lebih jauh. Sepertinya aku juga seperti Ade; tertipu. Padahal aku berharap bisa mendapatkan teka-teki di film itu. Atau sekadar review-nya.
    Hahaha ....

    Aku suka bagian ini, btw >> “Hari gini masih ngasih coklat, buku nikah dong!”. Aku jadi ngeri sendiri, apa jadinya jika buku nikah bisa didapatkan semudah beli coklat lima belas ribu aja di pinggir jalan.

    Nulis fiksi lagi dong,Mbak. Terakhir baca tuh yang Konstelasi Gede-Pangrango. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya semacam itu Des. review filmnya boongan... teka-tekinya apalagi... hehehe...
      baru puasa nulis fiksi, Des...
      makasih sudah mampir, hehehe

      Delete
  4. Saya tertarik pada kutipan ini; "Terlebih karena di banyak sisi, Valentine adalah satu dari perayaan keagamaan. Menolaknya sama artinya dengan tidak menghargai agama lain".

    Mohon pencerahannya benarkah valentine day adalah bagian dari perayaan agama tertentu karena jika memang benar, sepanjang yang saya tahu valentine day bahkan tidak marak dirayakan hingga akhir awal tahun 1980-an. Saya tahu persis karena saya sudah ABG saat tahun 70-an, masih remaja dan tentu saja sudah kenal jatuh cinta. Cuma anehnya saya tak sekalipun tahu bahwa ada hari tentang kasih sayang pada saat itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya membaca beberapa sumber, Valentine mempunyai beberapa sejarah yang berbeda. Ada yg mgatakan hari raya bangsa pagan sampai dengan hari raya santo valentinus bagi nasrani dan katolik. Saya tidak mengetahui lebih jauh. Teman-teman nasrani dan katolik saya menganggapnya sebagai perayaan. Tapi di atas semua itu, seperti kita tahu setiap manusia punya sejarahnya masing-masing. Dan saya memilih untuk tidak mempermasalahkannya. :)

      Delete

WILDFLOWER

They just grow wherever they want. No one has to plant them. And then their seeds blow in the wind and they find a new place to grow.

Don't be beautiful

They keep saying that beautiful is something a girl needs to be. But honestly? Forget that. Don’t be beautiful. Be angry, be intelligent, be witty, be klutzy, be interesting, be funny, be adventurous, be crazy, be talented – there are an eternity of other things to be other than beautiful. And what is beautiful anyway but a set of letters strung together to make a word? Be your own definition of amazing, always. That is so much more important than anything beautiful, ever.” – Nikita Gill