45 Years: Studi tentang Pernikahan dan Hantu-hantunya

9:17 AM




45 Years mencoba membuktikan bahwa periode dan frekuensi bukan standar presisi mengukur berhasil-tidaknya sebuah hubungan romantis. Hubungan romantis mensyaratkan banyak hal—tidak akan terbangun melulu oleh sensasi-sensasi menyenangkan saja. Karena pada hakikatnya, mencintai seseorang, seperti yang dikatakan Erich Fromm, bukan sekedar perasaan kuat. Mencintai adalah sebuah paket utuh dari keputusan, penilaian, dan janji. Keputusan untuk meleburkan diri sepenuhnya dan secara intensif hanya dengan satu pribadi, janji dan komitmen penuh atas keputusan tersebut, serta penilaian-penilaian atas keduanya. Penilaian itu bisa berupa mempertanyakan ulang hal-hal yang telah-sedang-akan dilalui bersama.


Di titik ini, mencintai menjadi kegiatan yang sangat eksklusif. Yang mana para subjeknya mendambakan peleburan total. Yang biasanya diresmikan dalam simbol-simbol kesepakatan antardua individu. Bisa berupa status relasi di media sosial atau juga status pernikahan di masyarakat sosial.

45 Years mencoba mempertanyakan perkara eksklusivitas tersebut dalam kisah sepekan Kate-Geoff Mercer. 

Kisah ini dimulai dari tujuh hari menjelang perayaan pernikahan mereka yang ke-45.

Bermula dari sebuah surat yang datang di tengah proses merekan mempersiapkan tempat acara, baju pesta, dan lagu-lagu dansa pertama. 


“Mereka telah menemukan tubuh perempuan itu. Mereka telah menemukan Katya,” Geoff membacakan isi surat itu di hadapan Kate, istrinya. Katya, mantan pacar Geoff, perempuan yang 50 tahun lalu hilang, ditemukan kembali, mati, terawetkan karena membeku di dalam gletser Alpen Swiss. Surat itu memantik Geoff menuturkan masa lalunya, melucuti hal-hal yang selama pernikahannya dengan Kate tidak pernah dibicarakan sama sekali. Perkara yang nyatanya menginisiasi kegelisahkan Kate, mengacaukan perayaannya, dan mencederai pernikahannya.

Konon, yang pasti hanyalah masa lalu, dan kepastian terjauh di masa depan adalah kematian. Andrew Haigh, sutradara film ini, ikut mengamini pernyataan tersebut di filmnya. Ia menghadirkan relasi Kate-Geoff sebagai satu contoh, bagaimana manusia mengatasi keterpisahan—membebaskan diri dari kesendirian. Yang pada perjalanannya tidak selalu bergerak menuju masa depan, terkadang harus berhenti beberapa saat, berhadapan dengan masa lalu, dan berkelahi bersamanya. Di tangan Haigh, masa lalu itu berwujud ‘hantu’ dari dimensi lain—yang menghantui Kate sang istri dan para penontonnya. 


Mempertanyakan Perasaan

Dalam 45 Years, tidak ada satu adegan pun yang menghadirkan Katya dan Geoff dalam satu frame. Yang artinya, kedekatan emosional dan keintiman di masa lalu mereka tersampaikan bukan melalui adegan-adegan visual. Masa lalu yang emosional itu dihadirkan melalui surat, imaji, dan kisah-kisah mendetail yang dituturkan Geoff, serta foto dan jurnal Geoff yang ditemukan sendiri oleh Kate.  

“Dia mengenakan cincin di jarinya. Itu adalah cincin kayu yang kecil, terbuat dari kayu pohon ek,” Geoff menarasikan secara detail perihal Katya dan masa lalunya. “Lucu sekali, kau bisa mengingat(hal-hal kecil itu)nya,” Kata Kate lirih. 

Perhatikan juga ketika Geoff menyebut mantan kekasihnya “My Katya,”. Sebutan itu praktis melahirkan dua konsekuensi sekaligus. Adalah keintiman Geoff yang menembus dimensi dan waktu, serta kenyataan bahwa Geoff mempunyai ‘perempuan kepunyaan’ yang lain selain istrinya sendiri—bahkan dalam bentuk perempuan tak bernyawa.


Kamera kemudian berfokus pada Kate. Dari ekspresi dan bahasa tubuh Kate, penonton diberi banyak waktu dan ruang luas untuk mengulik kompleksnya perasaan: antara kecewa, marah, gelisah, heran, dan ketakutan. Justru dari Kate, kita benar-benar menyadari kedekatan emosional antara Katya dan Geoff. 


Dari Kate juga, Haigh mencoba mempertanyakan bentuk pasti dari perasaan-perasan yang dipelihara selama 45 tahun. Hasilnya adalah ketidakpastian itu sendiri. Karena bagaimanapun juga, perasaan adalah hal yang sangat cair. Bentuknya berubah, menyesuaikan keadaan, dan itu tidak bergantung seberapa lama ia dipelihara—atau dikurung.


Merayakan Ketakutan

“Aku mencium bau di sekitar rumah. Dan itu parfumnya. Itu seperti, perempuan itu hadir di setiap sudut rumah ini. Dia, sepanjang hari, ada di belakangku,” Kata Kate di antara ketakutan dan kegelisahannya. Sikap yang sejatinya adalah bentuk kekuatan eksklusivitas sebuah relasi. Sebuah respon atas sikap Geoff yang gagal menjalani peleburan total—di umur pernikahan ke-45, ia berselingkuh dengan imaji-imaji mantan pacarnya yang mati 50 tahun lalu.  


Haigh dari awal menggerakkan 45 Years dari ketakutan dan kegelisahan Kate. Ketika Geoff membahas masa lalunya, Haigh justru lebih banyak memfokuskan kamera pada ekspresi dan bahasa tubuh Kate. Jangan lupakan juga ketika Kate meneriaki Geoff yang membongkar benda-benda bersejarahnya di loteng pada tengah malam. Tubuh Geoff sama sekali tidak dihadirkan dalam frame. Hanya Kate yang berdiri di samping tangga, berteriak dari bawah meminta foto Katya dari tangan Geoff. Beberapa kali, Geoff cukup hadir dalam bentuk suara gagapnya saja. 


Begitu halnya ketika mereka membicarakan surat ataupun benda-benda bersejarah Geoff-Katya. Ketika foto-foto Katya ditayangkan dalam proyektor, kamera lebih banyak menyorot ekspresi Kate daripada potret Katya itu sendiri—dibarengi dengan scoring pelan dan meneror dari slide proyektor yang juga digunakan untuk membuka film ini. Penonton dibiarkan larut dengan kegelisahan Kate. Di sini, Haigh berhasil melahirkan ‘hantu’ justru dari ketakutan-ketakutan di wajah korbannya. 


“Jika ia belum mati dan kau bisa ke Swiss. Maukah kau dengan sungguh-sungguh menikahinya?” Tanya Kate. Dan jawaban ‘Ya’ dari Geoff berhasil membuat film drama ini menjadi sangat menakutkan: Katya, perempuan yang sudah tak bernyawa lagi, dari jarak beribu-ribu kilometer, telah berhasil mencuri suami orang.

Permainan Waktu

45 Years bergerak dengan lintasan utama: waktu. Adalah kisah pernikahan selama 45 tahun, masa lalu yang terjadi 50 tahun yang lalu, serta sebuah perayaan pernikahan yang tinggal seminggu. Di titik itu, keberhasilan film ini praktis ditentukan dari seberapa cakap pelaku film bermain dengan waktu. 

Nyatanya, pemadatan waktu selama 45 tahun ini dipertimbangkan sungguh-sungguh oleh Haigh. Hal ini terwujud dari kesungguhannya menggarap momen-momen kecil dalam film—yang memang tidak bisa dianggap sepele. Seperti kerutinan Kate dan Geoff setiap harinya. Kebiasaan Kate mengajak jalan-jalan Max, anjing mereka setiap pagi, ritual minum teh, menggosip perihal tetangga mereka, mendengarkan lagu-lagu yang sama, berdansa, sampai dengan kebiasaan membaca buku bersama sebelum tidur. Kebiasaan-kebiasaan kecil, yang menjadi penting untuk menggambarkan sejauh mana mereka selama 45 tahun ini.

Berlanjut pada kebiasaan-kebiasaan yang berubah ketika dihadapkan prahara. Geoff dan Kate kembali merokok lagi—kegiatan yang semula telah disepakati untuk dihentikan. Gejala tersebut sebenarnya ingin memperlihatkan kepada penonton, sejauh mana mereka berubah ketika menderita kegelisahan. Kita sama-sama diperlihatkan bahwa kegelisahan menyikapi masa lalu bukan perkara remeh yang mudah diacuhkan—ia selalu menuntut ruang kontemplasi. 

Haigh bermain lebih dalam lagi. Pemadatan waktu itu ia wujudkan dengan pengontrasan dua pasangan. Apa-apa saja yang terjadi dengan Geoff dan Katya 50 tahun lalu diperbandingkan—serta dibenturkan—dengan keputusan-keputusan Geoff atas Kate yang ia jalani selama 45 tahun mereka menikah. Dua di antaranya: perkara foto dan kehamilan. Lima puluh tahun lalu, Geoff selalu merekam kisah cintanya dengan Katya melalui foto, tulisan di jurnal, tiket dan bunga kering. Di sisi lain, selama 45 tahun pernikahannya dengan Kate, Geoff tidak menganggap hal-hal tersebut penting. Pun dengan keputusan lain yang jauh lebih besar: pilihan punya anak. Bersama Kate, Geoff sepakat untuk tidak mempunyai anak. Berbeda dengan kenyataan 50 tahun lalu, yang jelas terpotret pada foto Katya dengan perut hamilnya. Perbandingan-perbandingan ini berguna untuk merangkum kisah panjang mereka bertiga. Sehingga penonton paham hanya dengan menonton kisah satu pekan menjelang perayaan pernikahan Kate dan Geoff—yang ditayangkan dalam 95 menit durasi film.

45 Years menghadirkan sebuah konflik kehidupan pernikahan tanpa berambisi menghakimi subjek-subjeknya. Haigh memilih menghentikan filmnya pada kegelisahan-kegelisahan Kate atas Geoff saja. Tidak ada hasil akhir yang berpengaruh pada kejelasan hubungan mereka berdua. Akhir film yang terbuka tersebut sejatinya memberi ruang penonton untuk mengembangkan opini-opininya sendiri.

Bagaimanapun juga, yang paling hakiki dari relasi romantis manusia adalah siklus. Setiap akhir merupakan titik mula sebuah narasi yang lebih panjang. 45 Years tidak berambisi menerangkan apa yang dinamakan solusi ideal sebuah hubungan yang berantakan. Barangkali memang tidak ada yang ideal, semuanya serba relatif. Yang pasti adalah, 45 Years mengingatkan kita perihal menyikapi hubungan: bukan sekedar apa-apa saja yang layak untuk dirayakan, tetapi juga apa-apa saja yang harus kembali dipertanyakan.


45 Years | 2015 | Negara: UK | Sutradara: Andrew Haigh | Cast: Charlotte Rampling, Tom Courtenay | Genre: Drama, Romance

You Might Also Like

4 komentar

WILDFLOWER

They just grow wherever they want. No one has to plant them. And then their seeds blow in the wind and they find a new place to grow.

Don't be beautiful

They keep saying that beautiful is something a girl needs to be. But honestly? Forget that. Don’t be beautiful. Be angry, be intelligent, be witty, be klutzy, be interesting, be funny, be adventurous, be crazy, be talented – there are an eternity of other things to be other than beautiful. And what is beautiful anyway but a set of letters strung together to make a word? Be your own definition of amazing, always. That is so much more important than anything beautiful, ever.” – Nikita Gill