Merayakan Basa-Basi

1:55 PM

foto: Cahyo, Nur Wahyu

Beberapa orang menempatkan 'basa-basi' bersama dengan dusta-dusta, reality show Uya Kuya, dan tahi cicak di atas meja. Sama-sama dihindari, dibenci, dan sialnya selalu hadir—dan pada taraf tertentu: dibutuhkan.

Basa-basi adalah kebutuhan manusia--lebaran membelajarkan saya demikian. Mulai dari kalimat paling dusta “Anggap saja rumah sendiri” sampai dengan pertanyaan-yang-sebaiknya-tak-perlu-ditanyakan-hanya-karena-kamu-tidak-cerdas-mengolah-obrolan, semacam “Kapan nikah? Kapan wisuda?~~” yang nyatanya selalu ada dan berlipat ganda kehadirannya di setiap hari raya.

Beberapa jenis basa-basi memang saya hindari, namun banyak juga yang masih saya imani, satu di antaranya, “Sama-sama, mohon maaf lahir batin juga.”

Saya percaya, banyak ucapan maaf adalah tulus, dari hati. Saya sekaligus percaya, banyak ucapan maaf yang terkadang harus hadir sebagai basa-basi, terlebih di hari raya. Tentu saja tidak apa-apa, sah-sah saja, bahkan bisa dipahami: memang sudah semestinya demikian. Saya pun demikian.

Saya sendiri bukan seorang yang mudah memaafkan. Saya selalu merespon apapun yang masuk ke dalam kepala saya. Saya tipikal orang yang gemar berkomentar dan mampu meluangkan waktu untuk merespon segala hal yang bersentuhan dengan saya, terlebih jika kamu berkata dan berlaku yang membuat saya sakit kepala. Jika kamu merasa saya tidak demikian, berarti kamu—dan masalahmu—sepele.

Memaafkan dan meminta maaf adalah dua hal berbeda, kadarnya tak sebanding. Kutipan 'memaafkan tak semudah minta maaf' itu benar, setidaknya untuk saya pribadi. Bagaimanapun, memaafkan tidak cukup berhenti di mulut saja. Ia butuh disepakati utuh, lahir-batin, dan itu, bagi saya, untuk beberapa hal, terlalu sulit.

Saya selalu tertawa dengan kejadian beberapa waktu lalu. Seorang teman—atau mungkin juga bukan, saking lamanya tidak berkomunikasi dengan saya membuat saya tidak ingat pernah berbenturan--meminta maaf dengan sangat serius via telepon. Ia merasa kesalahannya telah mengutuk kehidupan keluarganya—dan ia butuh lepas dari kutukan itu--ya, memang semenegangkan itu. Serius, namun terdengar lucu, terlebih lagi ketika saya bilang “Saya dah lupa, dah ndak mikir,” dan dia jawab “Iya ndak mikir lagi, tapi saya butuh ijab-ikrar maaf yang kamu ucapkan,”

Waseeek. Ikrar-maaf-cukup-nyangkut-di-mulut-kutukan-hilang. Mantapp.

Lucu sekali.

Tapi sudahlah, sudah bulan Syawal, sudah banyak makan ketupat, sudah waktunya untuk menjadi pribadi yang lebih baik versi kita sendiri, baik dengan memaafkan semua orang, atau tidak mudah memaafkan semua orang.

Kita tidak serta merta menjadi orang yang sangat baik hanya dengan memaafkan dan menyenangkan hati semua orang. Saya tentu tidak berani menyebut kalian jahat hanya karena kalian tidak memaafkan saya yang berkata demikian.

Selamat, hari raya
sudah usai

You Might Also Like

0 komentar

WILDFLOWER

They just grow wherever they want. No one has to plant them. And then their seeds blow in the wind and they find a new place to grow.

Don't be beautiful

They keep saying that beautiful is something a girl needs to be. But honestly? Forget that. Don’t be beautiful. Be angry, be intelligent, be witty, be klutzy, be interesting, be funny, be adventurous, be crazy, be talented – there are an eternity of other things to be other than beautiful. And what is beautiful anyway but a set of letters strung together to make a word? Be your own definition of amazing, always. That is so much more important than anything beautiful, ever.” – Nikita Gill