Membaca Buku, Bersenang-senang, dan Menjadi Tidak Populer

11:18 AM


Saya lupa kapan terakhir kali menutup buku bacaan dengan perasaan sekenyang dan sesenang ini. Sama seperti membaca buku Dee Lestari lainnya, Aroma Karsa habis dengan sangat menyenangkan. Buku setebal 700 halaman ini benar-benar membuat saya kenyang, baik oleh hal-hal baru yang dihadirkan dengan sangat lekat atau juga dengan pengalaman membaca bacaan yang begitu mengikat—saya serasa tak mau menutup buku ini sebelum selesai.

Beberapa waktu lalu, euforia saya dengan kemunculan buku ini ditanggapi dengan sedikit canggung oleh sejumlah teman. Mulai dari yang tanya sambil meringis “Kamu baca buku Dee Lestari?!”, sampai yang jelas-jelas membenturkan Dee dengan penulis lainnya, “Aku gak baca Dee. Aku baca Albert Camus saja.”

Oh ya, oke. Saya tak bermasalah dengan semuanya kok. Saya bisa mengerti, memang ada sebagian orang yang sengaja memilah bacaan seperti memilih shampo atau sabun mandi—ia akan gatal-gatal jika terpaksa mengonsumsinya. Sama, saya pernah sesaat. Dulu sekali. Sampai kemudian, saya lelah sendiri.

Novel Dee mungkin adalah bacaan populer (sebenarnya saya sangat malas menuduh-nuduh, mana buku populer mana buku sastra dsb dsb. Terlebih lagi, saya kurang ilmu untuk membahas perkara ini). Dalam beberapa hal, serial Supernova-nya Dee sama populer-nya dengan Harry Potter, Twilight, Divortiare, Antologi Rasa, dan lain-lain, dan lain-lain.

“Saya tumbuh besar bersama mereka, 15 tahun bersama serial Supernova, dan 21 tahun bersama Harry Potter. Kurang beruntung apalagi coba,” kata saya.

Tak ada salahnya memang memilih-milih buku—atau juga memilih-milih teman, pasangan, dan air minum kemasan. Yang keliru barangkali ketika kita merasa jumawa dengan mendaifkan pembaca lain yang mempunyai selera berbeda.

“Hah. Kamu minum Akua. Aku dong minum air rebusan dari sumur sendiri.”

Jika saya pernah berkata demikian dan sejenisnya, mohon dimaafkan.

Sebelum Aroma Karsa, saya membaca beberapa buku parenting dan pendidikan anak, serta satu buku hasil blind date with a book (yang berbulan-bulan ini tak juga kelar) Guns, Gems, and Steel-nya Jared Diamon. Saya tak akan membandingkan buku-buku tersebut, lebih baik dibaca yang mana. Semuanya hadir memberi pengalaman membaca dalam porsinya sendiri.

Ada buku yang memang saya baca untuk membelajarkan dan mengasuh 'pembacaan-mendalam'. Ada juga buku yang saya fungsikan untuk menghibur, menyenangkan, dan mengenyangkan. Pendeknya, buku apa saja bisa saya baca. Kalau kamu tidak sepakat, kita tetap berteman kok. Tidak berteman juga gakpapa. Asal apa? Ya benar, asal gak nyakitin akooh.

Senang sekali, seminggu kemarin saya berhasil menghasud suami untuk membaca Aroma Karsa. Senangnya lagi, ia begitu bersemangat menghabiskan buku tersebut (beliau lebih cepat rampung ketimbang saya). Senang, senangnya lagi, ia punya energi berlebih untuk membaca serial lama Dee Lestari: Supernova. Senang, senang, senangnya lagi, ia rajin mendiskusikan setiap fragmen menarik dari novel, dan saya timpali dengan ambisius dan membabi buta. Wkwk

Senang-senang itu sederhana--dan tidak mahal. Termasuk bisa tertawa bersama dengan hal-hal kecil yang dinikmati berdua.

BTW, hari ini buku serial Harry Potter genap berusia 21 tahun. Beruntung sekali, setua ini saya masih bisa sering-sering menonton anak canggung dengan bekas luka di kening yang sulit mati itu.

Selamat menjadi populer—atau tidak populer. Mohon maaf lahir dan batin.

You Might Also Like

0 komentar

WILDFLOWER

They just grow wherever they want. No one has to plant them. And then their seeds blow in the wind and they find a new place to grow.

Don't be beautiful

They keep saying that beautiful is something a girl needs to be. But honestly? Forget that. Don’t be beautiful. Be angry, be intelligent, be witty, be klutzy, be interesting, be funny, be adventurous, be crazy, be talented – there are an eternity of other things to be other than beautiful. And what is beautiful anyway but a set of letters strung together to make a word? Be your own definition of amazing, always. That is so much more important than anything beautiful, ever.” – Nikita Gill