Bagaimana Nalar Pendidikan Dikerdilkan oleh Perangkap Kemewahan

3:45 PM



Gandum dianggap tumbuhan paling berhasil dalam riwayat sejarah bumi, bukan hanya karena mampu menguasai sepuluh kali luas Britania, namun yang paling kurang ajar dari semuanya, mengutip Yuval Noah Harari: gandum, sejak 10.000 tahun silam, mampu 'menjinakkan' satu spesies congkak bernama Homo sapiens; manusia.

Revolusi pertanian yang mengubah gaya hidup nenek moyang kita dari berburu-meramu menjadi bercocok tanam, paling tidak telah menggambarkan betapa manusia adalah makhluk yang mudah bosan dan gampang tergoda.

Bagaimana tidak, gandum berhasil meyakinkan manusia untuk menukar kehidupan-lengkap-gizi (nutrisi dari hasil hewan-tumbuhan buruan) dengan kehidupan yang serba melatih kesabaran (di masa bercocok tanam): sabar membersihkan ladang karena gandum tidak suka batu dan kerikil, sabar berpanas-panas memikul air dan mencabuti rumput karena gandum tidak suka berbagi ruang dengan tumbuhan lain, bahkan juga, sabar mengumpulkan tahi untuk menjamin pertumbuhan si gandum sempurna.

Hal ini bertentangan dengan pelajaran biologi di bangku sekolah menengah kita yang menjelaskan, tubuh Homo sapiens berevolusi menjadi lebih tegak adalah untuk bisa berlari mengejar hewan buruan atau lihai memanjat pohon. Bukan berevolusi untuk bisa memindah batu atau mengumpulkan tahi, hanya untuk memanen biji-bijian yang membuat mereka khilaf dan melupakan sumber protein yang lain di hutan: rusa, babi, dan jamur.

Kita mau berkilah apalagi selain dengan malu-malu mengakui, gandum, dengan tanpa usaha lebih, mampu mendomestikasi umat manusia sejak berpuluh ribu tahun yang lalu. Sampai kemudian menjebak manusia ke dalam sebuah ruang tanpa sekat yang Harari sebut sebagai 'perangkap kemewahan'.

Temuan sejumlah tulang dan rangka sebagai bukti arkeologi boleh jadi mencatat bahwa tubuh manusia berevolusi, di sisi lain kita juga penasaran apakah rasa malu dan tamak Homo sapiens terus berkembang, melihat gambaran suram bahwa dewasa ini banyak sekali perangkap kemewahan yang lain yang kita injak bersama-sama dengan sengaja.

Untuk masa sekarang, manusia memang tidak melulu menggantungkan hidupnya pada gandum, ia juga mengonsumsi daging dan memakan bangku sekolah, dua hal yang diyakini sama-sama dapat membuat mereka pandai.

Kepandaian hasil produksi bangku sekolah itu juga yang membuat pejabat-pejabat rajin bongkar pasang kebijakan dan kurikulum, yang selanjutnya membuat pelajar uring-uringan.

Kebijakan yang mana?

Dalam Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA)--salah satu standar yang dipakai untuk mengukur level literasi, sains, dan matematika--Indonesia punya prestasi buruk. Sialnya, perkara ini dijawab Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dengan mengeluarkan kebijakan baru: memasukkan soal-soal yang membutuhkan daya nalar tingkat tinggi ke dalam Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Beberapa dari kita menyebutnya sebagai soal-soal HOTS atau High Learning Order Thinking Skill, beberapa menyebutnya sebagai soal-bikin-pusing sembari mengeluh beramai-ramai di sekujur akun instagram Pak Menteri.

Lain lagi dengan kebijakan zonasi di Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)--dan segala anak pinak perkaranya.

Konon Pak Menteri menerapkan sistem zonasi, untuk pemerataan siswa, dengan mengharuskan calon peserta didik mendaftar berdasarkan domisilinya masing-masing. Hasilnya kemudian diharapkan tidak ada lagi sebutan mana sekolah favorit dan mana sekolah buangan.

Lalu, apakah penerapan soal-soal HOTS salah?

Apakah tujuan sistem zonasi yang terdengar begitu bijak itu juga salah?

Apakah lele bakar madu yang disambali wasabi salah?

HOTS tidak salah, ia memang hadir untuk mengasah nalar, daya pikir, dan kreativitas anak, yang salah ketika ia tiba-tiba hadir dan memberi kejutan saat ujian, alih-alih diterapkan lebih dulu dalam proses pembelajaran sehari-hari.
Sistem zonasi sebenarnya tujuannya baik, hanya saja hadir di saat yang kurang tepat. Zonasi sebenarnya jauh lebih adil jika dihadirkan ketika sudah banyak sekolah mempunyai kualitas sama-sama baik. Dan lele bakar madu yang disambali wasabi hadir lebih tepat ketika netizen sudah lebih toleran menyikapi keragaman lauk pauk.

Berkaca dari ramai-ramai HOTS dan zonasi ini, tampak sekali pemerintah terlalu buru-buru memilah kebijakan.

Para pemangku kebijakan ini lebih memilih menguji-cobakan langsung ke muridnya, alih-alih membenahi kualitas perangkat pembelajaran terlebih dahulu. Perangkat pembelajaran di sini tidak lain adalah: kualitas guru dan kualitas metode pembelajaran, berikut sarana prasarananya.

Saya percaya, jika hal-hal itu sudah matang dan kualitas pendidikan di Indonesia telah merata, HOTS dan zonasi tidak akan seriuh sekarang permasalahannya.

Namun, apa benar pemerintah luput memperhatikan guru?

Tidak juga.

Pemerintah telah mengalokasikan lebih dari 60% dari total anggaran pendidikan nasional di Indonesia digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan (gaji dan tunjangan) guru.
Besar sekali, bukan?

Sedihnya, besarnya angka tersebut berimbas pada runyamnya tataran praktis pendidikan kita: iming-iming gaji guru tinggi, ditambah anggapan bahwa naik pangkat guru mudah, banyak anak muda yang berbondong-bondong ingin menjadi guru. Iming-iming menjanjikan ini juga yang dengan begitu lihai menyetir orientasi utama anak muda menjadi guru: sertifikasi adalah kuntji.

Saya tentu tidak menyalahkan cita-cita mereka ingin menjadi apa pun. Hanya saja begitu menyedihkan ketika keinginan mendidik yang begitu mulia bergeser menjadi keinginan yang orientasi utamanya duit.

Saya pernah mengobrol dengan teman, ia bilang tujuan pendidikan harusnya membuat orang jadi baik dan menggunakan ilmu pengetahuan dalam hidupnya. Ketika ia ingin menjadi dokter misalnya. Sebelum ia menggunakan ilmu kedokterannya dengan baik, ia harus jadi orang yang baik dulu. Yang ada sekarang, kita lebih mudah menemukan dokter yang menghamba pada pabrik obat, yang sasaran utamanya ke duit.

Pun ketika ia ingin jadi guru.

Ironisnya, motivasi sertifikasi adalah kuntji justru dicetuskan oleh pemerintah kita sendiri, yang katanya ingin membenahi nalar-daya-pikir-kreativitas dan, ya, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sedihnya lagi, kebijakan pemerintah untuk menyediakan lebih banyak tunjangan bagi para guru
hampir tidak memiliki efek pada meningkatnya kualitas pembelajaran.
 


Hal ini ditunjukkan oleh penelitian Sandra Kurniawati, Luhur Bima, Daniel Suryadarma, dan Asri Yusrina Education in Indonesia: A White Elephant? yang diterbitkan bulan Juli 2018 kemarin. Mereka menyatakan peningkatan sertifikasi guru yang telah dimulai sejak 2005 yang katanya ditujukan untuk meningkatkan keterampilan mengajar, secara statistik tidak mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.

Hasil tersebut bisa dipahami ketika kita melihat kenyataan di lapangan. Masih jarang guru yang punya inisiatif untuk belajar dan mengambil peran sebagai fasilitator atas apa yang seharusnya dipelajari murid.

Teman saya, ayah dua anak laki-laki sekolah dasar mencak-mencak: guru sekarang jauh dari metode-metode pembelajaran, sebagian besar tahunya mengajar itu berdiri di kelas, orasi di situ, mendikte pengetahuan ke murid. Mereka kadang tidak tertarik dengan metode-metode mengajar yang lain. Padahal, untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, kita sangat butuh seorang guru yang memang suka belajar, katanya.

Saya sepakat, pendidikan itu bukan satu aja. Mendidik itu bukan satu cara saja. Permasalahan kualitas guru menjadi kondisi mula permasalahan pendidikan di Indonesia. Jika kita mau membereskan permasalahan pendidikan yang pertama kali harus kita benahi ya kualitas guru.
Terus-terusan mengalokasikan dana yang besar untuk kesejahteraan guru meski tidak berdampak signifikan pada kualitas pendidikan hanya akan membuat jebakan baru.

Gandum, sebagai perangkap kemewahan, telah berhasil mendomestikasi manusia 10.000 tahun yang lalu. Kali ini, boleh jadi, sertifikasi yang akan mendomestikasi anak-anak muda.

Jadilah dana sertifikasi sebagai perangkap kemewahan, yang malangnya diciptakan oleh pemerintah kita sendiri, yang pelan-pelan mengerdilkan nalar pendidik(an) kita.
- Yula

You Might Also Like

0 komentar

WILDFLOWER

They just grow wherever they want. No one has to plant them. And then their seeds blow in the wind and they find a new place to grow.

Don't be beautiful

They keep saying that beautiful is something a girl needs to be. But honestly? Forget that. Don’t be beautiful. Be angry, be intelligent, be witty, be klutzy, be interesting, be funny, be adventurous, be crazy, be talented – there are an eternity of other things to be other than beautiful. And what is beautiful anyway but a set of letters strung together to make a word? Be your own definition of amazing, always. That is so much more important than anything beautiful, ever.” – Nikita Gill