Frog Stay, Kado Hari Jadi, dan Upaya Merawat Ingatan

2:48 PM



"Sebentar ya, Bu. Antri panjang. Libur tanggal merah, banyak percetakan yang tutup, ini di Jokteng."

Kata Mas Dit meminta waktu lebih lama untuk menyelesaikan agendanya, mencetak sticker debut pertama yang ia desain untuk brand Sokondalem, sekaligus juga meminta saya lebih bersabar menunggunya di rumah.

Jokteng menuju rumah kami di jalan Pleret-Bantul memang butuh waktu lebih dari 30 menit, terlebih jalanan hari itu menjadi lebih ramai oleh banyak sekali event di Yogya, termasuk puncak perayaan Sekaten.

Hari itu memang tanggal merah, libur maulid nabi, yang juga bertepatan dengan hari jadi pernikahan kami.

Cukup istimewa, karena selain bisa liburan bersama, kami (saya-Mas Dit-Kala) juga mendapat kado kecil dari seorang kawan baik, untuk staycation di penginapan kayu di pinggir sungai, di pojok kota keramik Kasongan-Jogja.

Sore itu kami akhirnya tiba di Frog Homestay (Frog Stay), satu penginapan unik dengan para pemilik yang ramah. Kami disambut seorang ibu dengan sapu ijuk yang tengah menyapu daun kering yang bersumber dari sederet pohon bambu tinggi yang membatasi lokasi homestay dengan sungai.

Mifta, lelaki berambut panjang, ikal, dan bertato, langsung mengarahkan kami, melewati ayunan kain panjang berwarna merah yang membelah halaman lantai kayu, menuju kamar yang telah di pesan kawan saya. Sebuah kamar berdinding dan berlantai kayu dengan atap daun-daun, lengkap dengan gembok-kunci model jaman dulu. Manis sekali.

"Dapur sebelah sana ya, Mbak. Kalau mau buat kopi, atau apa pun, bebas saja di sini," ujar Mifta sembari menunjuk bilik setengah terbuka, beratap daun-daun, dengan dinding separo bambu setengah batu bata tanpa semenan, yang berada tepat di pinggir sungai, di bawah rimbun bambu-bambu besar dan tua. Ada cerek kuno dengan kotak-kotak teh tua dan dua tanaman air di sana.



Saya mengitari homestay kecil yang mampu menyembunyikan langit dan matahari dengan rimbunnya pohon bambunya ini.

Pembatas kamar kami terbuat dari kayu dengan ukiran gambar orang dan tanam-tanaman. Kamar mandi berada di samping kamar, tanpa atap dan setengah pembatasnya berupa tanaman saja. Di halaman belakang terkumpul sejumlah lukisan dan kain batik.

Kamar dengan kelambu biru dan lampu kuning nyala kecil ini begitu manis, tanpa perlu meja kecil dengan bunga atau kartu ucapan selamat datang sekalipun.

Isi kamar di penginapan ini berhasil melemparkan ingatan saya jauh ke masa kecil saya ke sebuah rumah di tengah sawah di Gunungkidul. Ke sebuah kamar simbah putri, yang kini bekas rumahnya sudah diratakan, beberapa bulan setelah kepindahannya ke kota besar di tengah Semarang untuk ikut adik ibu--anak bungsunya.

Saya menidurkan jagoan kecil di atas kasur dengan 'amben' juga yang mirip dengan punya simbah putri.

Lantai kayu, pohon bambu, kelambu biru, tempat mandi tanpa atap, sejumlah benda-benda lama yang lima belas tahun lalu saya temui, lengkap dengan pemandangan simbah putri mencetak gula aren di batok-batok kelapa kecilnya.

Sejumlah benda yang tiba-tiba saja saya temui dalam satu waktu di satu tempat unik, di hari jadi kedua saya dan suami.



Banyak yang sudah berubah, berpindah, atau juga hilang. Beberapa dari kita membiarkannya berubah, atau sengaja mengubah dengan alasan: sudah wajar ada hal-hal baru.

Beberapa orang memilih merawatnya.

Frog Stay, penginapan kayu penuh pohon bambu dekat sungai ini salah satunya.

Saya jadi ingat catatan kecil suami saya di buku agendanya, tentang kalimat 'mencintai perasaan mencintai'. Serasa abstrak namun akhirnya bisa dimengerti.

Perasaan saya ketika melihat orang-orang dalam sepi memelihara suasana tempo dulu, yang mereka tempatkan dalam penginapan kayu beratap daun kering, pohon-pohon bambu tua yang terus mereka biarkan menua, kotak-kotak teh usang, dan gembok kunci kuno.

Perasaan saya melihat orang-orang yang bersepakat merawat cinta-cintanya. Memelihara Jogjanya dulu, untuk dirasai anak-anaknya dan anak-anak orang lain kelak. Untuk akhirnya kami bertemu dengan kami.

Barangkali memang begitulah mencinta. Ada hal-hal yang sudah semestinya dijaga dan dipertahankan, alih-alih diubah untuk alasan apa saja.

Sebagai orang yang kadang mudah menyerah, saya jadi malu. Sebagai orang yang mudah berubah, dari mencinta jadi pemarah, saya semakin malu.

20 November kemarin paling tidak mengajarkan saya apa itu bertahan, apa-apa yang musti dipertahankan, ada banyak hal yang musti dirawat, selawas apa pun ia, pun perasaan, pun ingatan.

Selamat hari jadi.

You Might Also Like

0 komentar

WILDFLOWER

They just grow wherever they want. No one has to plant them. And then their seeds blow in the wind and they find a new place to grow.

Don't be beautiful

They keep saying that beautiful is something a girl needs to be. But honestly? Forget that. Don’t be beautiful. Be angry, be intelligent, be witty, be klutzy, be interesting, be funny, be adventurous, be crazy, be talented – there are an eternity of other things to be other than beautiful. And what is beautiful anyway but a set of letters strung together to make a word? Be your own definition of amazing, always. That is so much more important than anything beautiful, ever.” – Nikita Gill