Membaca Kemiri Yori, Menonton Negeri di Bawah Kabut, dan Mempertanyakan Sistem Pendidikan Kita

6:41 PM


Buku Kemiri Yori - Book For Mountain. (Foto: dok.pribadi)

Arifin mengayuh sepeda usang, membelah ladang yang tidak sehijau kelihatannya. Kubis-kubis, kentang-kentang hampir busuk karena hujan yang sedihnya, terus turun di luar perkiraan.

Sama sedihnya dengan Arifin saat itu. Bocah umur 12 tahun itu lulus dengan nilai tertinggi di SD-nya. Sialnya, ia terancam putus sekolah, kecuali Bapaknya dapat utangan.

“Nilai ujianmu tertinggi, tapi sayang kamu tidak bisa melanjutkan sekolah, kecuali Bapak dapat uang pinjaman. Kalau enggak ya, terpaksa kamu harus berhenti sekolah,” ujar Bapaknya yang tengah duduk di depan tungku masak batu dengan kayu bakar yang masih mengepul.

Bapak Arifin adalah seorang petani sayur di kaki Gunung Merbabu. Sebuah tempat yang selama ini menyediakan makanan di rumah kita.

Cover Film Negeri di Bawah Kabut

Menonton Film Negeri di Bawah Kabut: Mengurai Tanya Kenapa Pendidikan Kita Begitu Jauh

Adegan pendek di film dokumenter Negeri di Bawah Kabut karya Shalahuddin Siregar ini memang mengusik. Sama mengusiknya dengan cerita sutradara tersebut terkait awal pembuatan film dokumenter yang dibuat selama 4 tahun dengan riset selama 2 tahun ini.

“Pada suatu sore yang hangat, saya mengikuti gerombolan penduduk mencari ranting kayu di hutan. Perjalanan menuju hutan melewati jalan setapak di tepi ladang kubis yang luas. Kubis sudah tampak tua berjejer rapi. Salah seorang penduduk dengan tenang menebas kubis yang berjejer di tepi jalan setapak dengan parang yang dipegangnya. Saya terkejut dan bertanya kenapa. Ternyata pada saat itu harga kubis hanya 150 rupiah per kilo. Harga yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya sebab harga di supermarket bisa dua puluh kali lebih tinggi,” tulis Shalahuddin di catatan pembuatan film Negeri di Bawah Kabut.

Arifin, Shalahuddin, dan saya barangkali tengah bertanya-tanya mengapa pendidikan begitu jauhnya? Dalam artian, sistem pendidikan di Indonesia seperti terkesan sebagai ‘sesuatu’ yang sangat berjarak, hingga keinginan-yang-berhak-dimiliki-semua-orang seperti ‘menjadi orang yang terdidik’ saja begitu jauh.

Ditambah lagi sistem pendidikan di sekolah-sekolah formal kita, dalam taraf tertentu, berhasil menjauhkan seseorang dengan dirinya sendiri. Hal ini bisa dirasakan pada pendekatan yang dipakai dalam pendidikan kita: kurikulum yang tidak ramah siswa, sistem rangking yang membangun iklim kompetisi alih-alih pertemanan, keharusan menghapal yang menempatkan siswa seperti mesin, dan cara pembelajaran guru yang masih meresahkan.

Hingga tak heran, jika ada yang pernah punya mimpi terlalu jauh (yang saking jauhnya lupa jalan kembali pulang) seperti hidup kaya-raya-jadi-apa-saja-di-kota, meninggalkan-kampung-dan-sawah-sawah-Bapak.

Di titik ini, sekolah rasanya telah berhasil menjadi mesin-mesin kapitalis yang berfungsi menciptakan sekrup-sekrup kecil untuk selanjutnya ‘dijual’ ke kota-kota besar sebagai budak-budak industri.

Perkara ini juga yang membuat saya gusar, terlebih dengan minimnya pendidikan kontekstual yang secara holistik mampu mendekatkan pelajar dengan konteks kehidupan di sekitarnya. Jika kita benar menyerap value-value dalam pelajaran ekonomi, orang-orang kita [yang kritis dan progresif] pasti  segera tanggap dengan nasib petani kubis seharga Rp150 itu tadi. Dan mungkin, jika para insinyur pertanian itu mau berendah hati dan turun gunung ke pelosok-pelosok serta berbesar hati berbagi ilmu dengan para petani, mungkin keluarga Bapak Arifin akan lebih sejahtera.

Tujuan pendidikan harusnya membuat orang jadi baik dan menggunakan ilmu pengetahuan dalam hidupnya. Ketika ia ingin menjadi dokter misalnya. Sebelum ia menggunakan ilmu kedokterannya dengan baik, ia harus jadi orang yang baik dulu. Yang ada sekarang, kita lebih mudah menemukan dokter yang menghamba pada pabrik obat, yang sasaran utamanya ke duit,” tutur seorang teman.

Jangan-jangan sistem yang kita pakai selama ini memang salah urus? Dan menyedihkannya lagi, kita tetap bebal meski sudah tahu ada yang tidak benar.

Sudah sepantasnya, pendidikan menyediakan hal-hal krusial seperti literasi yang memadai, termasuk bacaan bagus yang kontekstual. Sekolah mungkin akan tetap dengan kurikulumnya sendiri, namun di luar sekolah masih banyak ranah-ranah kosong yang menanti peran kita untuk mengedukasi diri sendiri dan belajar bersama dengan sekitar.

4 Seri Buku Kemiri Yori - BFM. (Foto: dok.pribadi)

Membaca Buku Kemiri Yori: Belajar Persoalan Besar dari Hal-hal Kecil

Book For Mountain (BFM) sebuah komunitas pendidikan yang mempunyai misi membenahi literasi ke pelosok Indonesia, telah melahirkan buku anak yang berjudul Kemiri Yori. Adi Noer Hidayah, Muhammad Firdaus Alfansuri, Rian Jati, dan Niniek Febriany, melalui 4 seri buku Kemiri Yori mengupas pertanian kemiri di Desa Mulakoli (desa kecil di Nusa Tenggara Timur) sebagai konten cerita.

Banyak hal menyita perhatian saya ketika membaca buku ini, mulai dari misi besar BFM hingga pemilihan buah kemiri sebagai pusat cerita. Pengembangan potensi lokal, terutama tanaman, rasa-rasanya telah jadi bahasan nomor sekian, sejak kita menomorsatukan beras sebagai bahan pokok bangsa (konon). Padahal yang butuh kita pahami bersama, beras bukan satu-satunya, di sekitar kita banyak pengganti beras yang juga butuh kita sadari kehadirannya.

Semuaaa orang di Indonesia tidak bisa ujug-ujug diminta bertani padi. Masyarakat Papua misalnya. Ada beberapa kalangan yang tidak bisa hidup tanpa hutan. Apa yang terjadi ketika hutan Asmat ditebangi sejak 1980-an lalu? Sagu yang merupakan bahan makanan utama mereka mati ketika hutan ditebang. Ulat sagu yang merupakan sumber protein juga mati ketika sagu tak bisa hidup. Babi hutan juga hilang jika hutan gundul. Apa yang dilakukan pemerintah? Mereka berbondong-bondong mengirimkan beras untuk masyarakat Papua. Apa yang salah?

Pemerintah memilih menyediakan beras alih-alih membenahi hutan. Menyediakan beras alih-alih melestarikan sagu. Dengan kata lain, pemerintah telah membiarkan Papua bergantung dengan beras. Hingga, ketika kekurangan beras, semuanya akan terkena masalahnya.

Pentingnya pendidikan yang kontekstual ada dalam ranah tersebut. ‘Pengetahuan’ sudah selayaknya tidak berjarak dengan apa yang ada di sekitarnya. Satu hal yang secara jeli didedah BFM melalui hubungan holistik Yori dengan kemirinya (tanaman lokal desa Mulakoli). Bagaimana Yori memperlakukan biji Kemiri, mulai dari menanam, menyediakan air yang cukup, hingga membuatkan pupuk alami adalah hal-hal menarik yang ditulis ringan di keempat seri buku Kemiri Yori.

Pemilihan pupuk alami dan pencegahan hama dengan lampu petromaks (daripada pestisida) dalam buku Kemiri Yori juga merupakan kejelian tim BFM. Langkah jeli yang sekaligus berfungsi sebagai kritik atas beberapa sistem pertanian yang berlaku selama ini.

Seperti kita tahu, kebijakan pertanian sejak tahun 1960-an lebih diarahkan pada proses monokulturisme (penyeragaman pangan untuk menanam padi) dengan penggunaan bibit varietas unggul, pestisida, serta pupuk kimia. Satu kebijakan yang sialnya berdampak pada pencemaran air dan tanah oleh bahan kimia.

Buku ini juga mengajarkan sejumlah wawasan menarik untuk anak. Misalnya pemanfaatan bambu untuk alat penadah hujan, penggunaan bahan sisa dapur sebagai pupuk alami alih-alih pupuk kimia, hingga pemilihan lampu petromaks untuk mencegah hama alih-alih memakai pestisida, dan sejumlah hal lain yang kelihatannya sepele, namun lebih dari itu, mengandung nilai-nilai kritik terhadap sistem pertanian kita yang serba instan dan rentan polutan seperti saat ini.

Hal-hal kecil yang mengingatkan kita, pengetahuan ada di mana-mana dan pendidikan tidak melulu sekaku apa yang diajarkan di bangku sekolah.

Setidaknya, buku Kemiri Yori telah berhasil mengingatkan hal kecil yang juga paling mendasar, tentang bagaimana mengenali potensi tanah sendiri, mengenali potensi diri sendiri, dan tetap menjadi diri sendiri.

Salah satunya, bisa dimulai dengan belajar bersama Yori.

***


You Might Also Like

0 komentar

WILDFLOWER

They just grow wherever they want. No one has to plant them. And then their seeds blow in the wind and they find a new place to grow.

Don't be beautiful

They keep saying that beautiful is something a girl needs to be. But honestly? Forget that. Don’t be beautiful. Be angry, be intelligent, be witty, be klutzy, be interesting, be funny, be adventurous, be crazy, be talented – there are an eternity of other things to be other than beautiful. And what is beautiful anyway but a set of letters strung together to make a word? Be your own definition of amazing, always. That is so much more important than anything beautiful, ever.” – Nikita Gill